Posted on

Pemikiran Transaksional

Peristilahan transaksional merujuk kepada akar kata transaksional itu sendiri yaitu, transaksi. Jika dilihat dari pengertian transaksi, yaitu persetujuan dalam jual beli antara dua pihak (penjual dan pembeli), maka secara harfiah, transaksional dapat diartikan sebagai ‘hal ihwal yang melibatkan transaksi’. Dalam hal ini tentu saja jangan mempersempit diri dengan istilah jual-beli sebatas barang dibeli dengan uang. Coba kita tengok istilah jual beli dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di dalamnya disebutkan bahwa jual beli ialah persetujuan saling mengikat antara penjual, yakni pihak yg menyerahkan barang, dan pembeli sbg pihak yg membayar harga barang yg dijual. Didapati bahwa ternyata, dengan menyerahkan sejumlah beras untuk mendapatkan buah-buahan sudah dikatakan jual beli. Maka berlaku pula bila kita memberikan uang agar dapat pujian. Berlaku pula bila kita memberi perhatian untuk mendapatkan cinta. Hal-hal semacam inilah yang selanjutnya dikatakan tindakan transaksional.

Pemikiran, atau cara berpikir, atau proses berpikir dalam hal ini bermakna lebih kepada ‘berpandangan’ atau ‘bergagasan’. Sehingga pemikiran erat kaitannya dengan tindakan. Maksudnya adalah, pemikiran selalu mendasari sebuah tindakan. Tiada tindakan vandal tanpa pemikiran yang vandal pula. Tiada tindakan terpuji tanpa pemikiran terpuji. Tapi kadang, ketika kita bicara pada pemikiran dan tindakan, kita dapati bahwa seorang pemabuk itu sebenarnya tahu bahwa minum minuman yang memabukkan itu salah dan dilarang. Perokok juga tahu bahwa merokok beresiko tinggi terhadap gangguan pernafasan. Tapi apa yang diketahui itu tak selaras dengan apa yang dilakukan. Maka dari yang demikian itu, perlu kita ingat bahwa dalam pemikiran menuju tindakan, ada proses yang mana kita sebut sebagai ‘memilih’. Tak heranlah jika kita sering sekali mendapati kata mutiara, ‘hidup itu pilihan’. Pilihan untuk berbuat baik atau jahat, pilihan untuk menebang atau menanam, pilihan untuk minum madu atau racun. Tapi jelas tak ada istilah pilihan untuk ‘tahu’ atau ‘tak tahu’. Ketika tak tahu, maka tidak ada pilihan. Tapi ketika tahu, tidak bisa terhindar dari pilihan. Pilihan selalu melekat kepada tindakan. Tindakan, bukan hasil. Kaya atau miskin bukan pilihan, tapi bekerja atau menganggur itu pilihan. Pandai atau bodoh itu bukan pilihan, tetapi belajar atau tidak belajar itu pilihan. Hasil, hanyalah akibat dari tindakan yang dipilih. Kembali kepada pemikiran, sekali lagi tiada tindakan tanpa pemikiran. Begitu pula tindakan transaksional, berawal dari pemikiran transaksional.

Dikatakan pemikiran transaksional –mengingat bahwa pemikiran selalu dikaitkan dengan tindakan- adalah apabila melakukan tindakan yang didasarkan pada prinsip transaksional. Berpikir bahwa dengan belajar, kita akan pintar. Dengan menabung, kita akan kaya. Lalu, bagaimana jika : Dengan berbuat baik, Tuhan akan memberi pahala. Dengan berbuat baik, kita akan masuk surga.
Jika kita kembalikan pada peristilahan di awal tadi, maka dengan berpikir yang demikian itu termasuk dalam pemikiran transaksional. Maka tindakannya pun tindakan transaksional. Dengan mengaji, kita akan mendapat pahala. Dengan puasa, maka kita akan mendapat surga. Maka, tak salah pula bahwa kita berbuat di dunia adalah bentuk dari proses jual beli dengan Tuhan. Tuhan menjual pahala dan surga dan manusia membelinya. Tersentil pertanyaan kecil : jika benar kita menjual perbuatan kita kepada Tuhan, lalu apa yang didapat oleh Tuhan? Kita dapat surga, Tuhan dapat apa? Ah, mari kita pikirkan sebuah analogi. Di suatu malam gelap, saya ingin berjalan menuju rumah. Tetapi karena saking gelapnya, saya tidak bisa melihat jalan dengan jelas. Kemudian seseorang memberikan sebuah penerangan berupa lampu senter kepada saya. Tapi saya punya pemikiran transaksional. Maka saya arahkan penerangan itu ke orang yang memberikan dengan harapan supaya saya bisa sampai rumah.

Mungkin terlihat konyol, tapi mau tak mau harus kita akui bahwa itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Banyak orang berbuat agar Tuhan memberi ini itu. Kita memberi uang pada yatim piatu agar kita diberi kelancaran rezeki. Kita beramal rutin agar dapat balasan yang berlipat ganda. Padahal, dalam setiap transaksi, tak mesti berakhir pada keuntungan pembeli. Maka tak sedikit pula orang frustasi dengan Tuhan, meski ada juga yang tidak.

Sebuah pabrik elektronik selalu memberikan buku petunjuk pada tiap produknya. Isi dari buku petunjuk itu ialah bagaimana cara menggunakan produknya. Karena saya punya pemikiran transaksional, maka saya baca buku petunjuk itu agar pabriknya memberi saya produk yang berlipat banyaknya. Terlihat konyol, yang mana buku petunjuk seharusnya digunakan untuk memakai produk. Tapi itulah kehidupan kita. Mau tak mau, akui bahwa seperti itulah. Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia bagaimana menggunakan alam, seperti halnya pabrik untuk buku petunjuknya.

Saya tidak hendak memberikan pembenaran atau mengatakan salah kepada pemikiran transaksional, tapi hanya sebatas memberikan pemaparan. Bahwa sebenarnya masih ada pemikiran lain, yang menurut saya jauh lebih logis dan secara timbangan masuk akal, jelas lebih masuk akal. Ia-lah pemikiran transformasional.

Advertisements

About adecandrahs

sangat suka one piece dan musik rock, khususnya angkatan 70an. termasuk salah satu yang percaya bahwa kebaikan itu momentum, sedangkan kebenaran itu tetap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s