Posted on

Sebuah Pembelajaran

Pernah dengar cerita tentang ayah, anak, dan unta dalam sebuah perjalanan? Kadang, tak acuh dengan lingkungan itu ada gunanya. Bukan berarti tak mempertimbangkan, tetapi tak mengindahkan. Jadi begini ceritanya. Saya lupa cerita persisnya macam apa, tapi pada intinya seperti ini.

Suatu ketika, ada seorang ayah bersama anaknya sedang dalam perjalanan menggunakan unta. Saat itu, ayah itu duduk mengendarai unta sementara anaknya berjalan kaki. Di tengah perjalanan, mereka menemui seseorang yang berkata kepada mereka itu. “Kau ini ayah yang tega sekali terhadap anaknya. Kau biarkan anaknya berjalan kaki, sementara kau menaiki unta itu”. Maka, ayahnya kemudian turun, dan bergantian anaknya yang ada di atas unta. Mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, berkatalah sesorang kepada mereka itu. “Kamu anak yang tidak menghormati orang tua. Kamu biarkan orang tuamu jalan kaki, sementara kamu duduk di atas unta”. Menanggapi perkataan orang itu, ayah dan anak ini kemudian menaiki unta bersama-sama. Kemudian mereka lanjutkan perjalanan. Lagi, di tengah perjalanan, ada orang yang menegur mereka. “Kalian tega sekali menaiki unta bersamaan. Apa kalian tidak merasa kasihan pada unta itu?” Lalu, mereka berdua turun dari unta itu dan sama-sama berjalan kaki untuk melanjutkan perjalanan mereka. Kembali, berkatalah kepada mereka seseorang. “Apa kalian ini bodoh? Kalian punya unta kenapa tidak dinaiki?”.

Begitulah kira-kira bunyi dari kisah itu. Ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi tafsiran. Tapi di tulisan ini, saya lebih menekankan kepada konsistensi. Konsistensi diartikan sebagai ketetapan dan kemantapan dalam bertindak. Artinya, dalam setiap tindakan yang kita lakukan itu hendaknya didasari pada sebuah kemantapan. Orang yang gerak-geriknya mantap, maka ia ibarat pohon yang tak mudah diombang-ambingkan oleh angin. Pepatah, ‘biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu’ saya rasa tepat untuk menggambarkan konsistensi dari kisah ini. Kemudian muncul pertanyaan. Apa berarti kita musti tutup telinga dengan perkataan orang lain? Tidak. Kita lihat dulu substansi perkataan orang itu. Dalam hal ini, konsisten adalah terhadap omongan orang yang bersifat menghujat atau menghambat laju gerak kita. Tetapi ketika yang dibicarakan adalah kebaikan yang berupa kritik, saran, ataupun masukan lain, maka pastilah kita pertimbangkan dulu baru kemudian kita tolak atau kita terima. Itulah konsistensi. Jangan pedulikan omongan orang yang akan menjatuhkan.

Advertisements

About adecandrahs

sangat suka one piece dan musik rock, khususnya angkatan 70an. termasuk salah satu yang percaya bahwa kebaikan itu momentum, sedangkan kebenaran itu tetap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s