Posted on

Pandangan Berpikir dan Rancang Bangun Berbuat

Entri ini sengaja saya tulis ulang dari blog saya yang lama. Sekedar ingin berbagi bahwasanya ada hal fundamental yang perlu kita ketahui bersama manakala kita ingin berbuat. Selamat membaca, dan kembali saya ingatkan bahwa tulisan yang ada di blog ini adalah murni opini subjektif, bukan argumentatif yang berlandaskan data-data. Sehingga, jikalau nantinya ada perbedaan pendapat, sangatlah wajarb 🙂

Oke! Pandangan Berpikir dan Rancang Bangun Berbuat. Itu adalah kata-kata yang sangat sering saya dengar dari ayah saya. Itulah mengapa saya mengangkat tema ini sebagai pembicaraan awal.

Seperti biasa, tidaklah orang mengerti isi tanpa membuka kulitnya. Biar bagaimanapun, dalam pembicaraan yang membahas sebuah pengertian, seharusnya kita tau apa arti katanya terlebih dahulu.

Dan satu hal, setiap kalimat yang mengandung pengertian harusnya dikembalikan kepada pengucapnya. Saya beri contoh untuk kasus ini. Suatu ketika, ayah saya kedatangan tamu dari daerah Jawa Barat. Sebagai orang jawa yang punya adat tinggi, sudah menjadi keharusan bagi ayah saya untuk menjamu tamu bak seorang raja. Maka, disuguhilah tamu ayah saya itu dengan makanan tradisional Jawa yang dikenal dengan Apem. Lalu, ayah saya pun mempersilahkan kepada tamunya untuk menikmati hidangan itu. “Silahkan dimakan!”.. tapi tamu tersebut menjawab, “atos, Pak.. atos..”. ‘atos’ dalam bahasa jawa berarti ‘keras’. Maka ayah pun sontak memegang hidangan yang telah beliau hidangkan dan berkata, ‘ini empuk kok..’. salah paham pun tak terhindarkan. Padahal ‘atos’ yang diutarakan oleh tamu tersebut mempunyai pengertian yang jauh berbeda dari apa yang ditanggapi ayah saya. ‘Atos’ menurut tamu adalah ‘kenyang’. Contoh tersebut adalah gambaran bahwa setiap peristilahan memang harus dikembalikan kepada si pengucapnya. Maka dalam hal ini, karena saya adalah pengucap kalimat tersebut, maka pengertiannya pun adalah dari saya, bukan penafsiran pembaca.

Pandangan Berpikir berarti bagaimana kita melihat suatu objek, yang dalam hal ini adalah sebuah isu, wacana, atau kasus, untuk dijadikan keputusan dan nantinya menjadi gagasan atau pendapat kita akan objek tersebut. Sehingga apa yang menjadi pendapat kita, adalah keluaran dari pandangan kita terhadap isu. Tak heran jika memang pendapat setiap orang itu berbeda, mengingat cara seseorang melihat suatu kasus juga berbeda. Tapi dalam hal ini, Pandangan Berpikir menjadi hal yang sangat esensial dan begitu penting karena pandangan berpikir kitalah yang menentukan ke arah mana kita berbuat. Seorang pemabuk yang terbiasa dengan perbuatan yang ‘kurang baik’ adalah hasil dari pandangan berpikirnya tentang mabuk. Karena ia berpikir bahwa mabuk adalah hal yang biasa dan tidak salah, maka meminum minuman keras pun juga biasa. Tapi bagi kita yang mungkin menganggap mabuk adalah hal yang tabu, maka meminum minuman keras adalah hal yang luar biasa salah. Itulah mengapa pandangan berpikir itu penting. Lalu, bagaimana pandangan berpikir yang benar?
Dalam ke-ilmiah-an, sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran secara ilmiah, haruslah mengandung syarat : logis secara struktural, isi empiris, dan pragmatis. Ketika kita melihat suatu isu dari sudut pandang ketiga hal itu, maka kita berpikir benar secara ilmiah. Maka ketika kita juga berpendapat karena berdasar pada ketiga aspek itu, pendapat kita benar secara ilmiah. Dan ketika kita berbuat atas dasar pandangan berpikir yang demikian, maka perbuatan kita adalah benar secara ilmiah.
Kemudian, saya teringat sabda Nabi Muhammad SAW , “Sesungguhnya tiap perbuatan itu bergantung pada niatnya”. Sebenarnya apa esensi dari niat, sehingga tiap perbuatan itu bergantung padanya? Kalau kita tengok dari satu sisi, kita mendapatkan hal lain dari niat yaitu bahwa niat adalah ‘perencanaan’. Sehingga tiap perbuatan adalah bergantung pada perencanaannya. Apabila perencanaan itu bagus, maka baguslah perbuatannya. Apabila perencanaannya itu buruk, maka buruklah perbuatannya. Namun saya tahu bahwa niat mempunyai arti yang luas dimana ada relasi dengan Allah akan keikhlasan amal perbuatan kita. Tapi dalam lingkup besar yang mempunyai struktur dan sistem, niat disini lebih mengarah kepada perencanaan. Dengan begitu, tak bisa kita pungkiri bahwa memang perencanaan itu esensial. Dan saya mengartikan perencanaan berbuat itu sebagai ‘Rancang Bangun Berbuat’. Kenapa harus rancang bangun?
Baiklah, memang salah jika mengartikan rancang bangun secara harfiah dari masing-masing kata, tetapi pemahamannya bisa kita analogikan secara demikian. Sebuah bangunan tidaklah berdiri sendiri secara tiba-tiba. Dibutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari : sketsa, bahan, pekerja, izin mendirikan bangunan, prosedur keselamatan, mengisi perabotan, dan masih sangat banyak lagi. Tanpa sebuah perencanaan seperti itu, bangunan tidak akan berdiri. Itulah rancang bangun. Dalam berbuat pun haruslah demikian. Perlu dibuat perencanaan yang matang. Darimana kita berbuat? Untuk apa kita berbuat? Kemana mau dituju dengan perbuatan kita? Kapan kita berbuat? Bagaimana kita berbuat? itulah rancang bangun berbuat. Sama saja kita berbuat tanpa tujuan, atau kita berbuat tanpa tau bagaimana resiko dan pertanggungjawabannya. Itulah pentingnya Rancang Bangun Berbuat.
Jadi kesimpulannya, ada keterkaitan antara Pandangan Berpikir dan Rancang Bangun Berbuat.
Advertisements

About adecandrahs

sangat suka one piece dan musik rock, khususnya angkatan 70an. termasuk salah satu yang percaya bahwa kebaikan itu momentum, sedangkan kebenaran itu tetap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s