Posted on

Menjadi Bangsa yg Madani

Tak dapat saya pungkiri, meskipun subjektif, melihat seorang paruh baya berada dipinggir jalan mengharapkan belas kasihan orang adalah hal yang sangat menyedihkan. Dan parahnya adalah bahwa hal tersebut tidak hanya dijumpai di satu jalan saja, melainkan hampir di setiap jalan di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa memang kemiskinan sudah mengakar di negeri yang jika dilihat dari potensi alamnya, adalah negeri yang kaya. Sementara di satu sisi, orang yang berkecukupan di Indonesia pun semakin lama semakin bermunculan. Terdata bahwa orang Indonesia yang mempunyai pengeluaran antara 2-20 juta dolar per kapita -berdasarkan ukuran Bank Dunia- mencapai 56,5 % (Koran Tempo, 2012). Itu artinya, lebih dari setengah penduduk Indonesia adalah orang yang “kecukupan”. Melihat fakta ini, benarlah bahwa memang ada suatu ketimpangan di negeri ini. Lalu apa permasalahan yang menyebabkan sedemikian rupa? Dan apa solusi dari permasalahan itu?

Saya sepakat mengatakan bahwa teori yang tepat menggambarkan kondisi sosial di negara kita adalah teori sosial piramid. Seperti kita ketahui, piramid adalah bangunan bertumpuk dimana untuk meletakkan batu tertinggi, harus berpijak pada batu-batu dibawahnya dengan jumlah yang semakin banyak. Bisa dikatakan, piramid adalah tumpukan batu di atas batu untuk mencapai batu tertinggi. Begitu juga dikaitkan dengan kondisi sosial kita. Untuk mencapai kekuasaan atau posisi kunci, orang harus berpijak kepada orang-orang yang berada dibawahnya. Semakin banyak yang ia pijak, semakin tinggi posisinya. Dalam hal ini, berpijak berarti menindas dan tingkatan posisi adalah kasta/strata sosial. Presiden lebih tinggi dari pejabat, pejabat lebih tinggi dari pengusaha, pengusaha lebih tinggi dari petani. Itulah sosial piramid.

Sebenarnya jika berbicara masalah sosial, tidak hanya sekedar permasalahan ekonomi semata. Namun bisa dikatakan, masalah ekonomi adalah permasalahan akar yang merambat ke permasalahan sosial pada umumnya. Dan tentunya, bak penyakit, jika ingin sembuh maka hilangkan dulu hal yang menyebabkan ia sakit. Seperti halnya penyakit, permasalahan sosial pun demikian. Untuk menghilangkan permasalahan sosial, maka hilangkan dulu penyebab permasalahan itu. Jika demikian, apa penyebab permasalahannya?

Secara garis besar, ada dua hal yang menjadi penyebab permasalahan sosial. Yang pertama yaitu permasalahan individual. Permasalahan individual adalah permasalahan yang terkait dengan diri pribadi orang. Dalam hal ini, selalu tidak jauh dari lingkaran setan, yaitu malas-bodoh-miskin. Ketika orang malas, maka ia bodoh dan miskin. Karena miskin, maka ia bodoh dan malas. Karena bodoh, ia menjadi miskin dan malas. Kemalasan berbeda dengan ketidaktahuan. Tetapi ketidaktahuan berbeda dengan apatis. Orang apatis cenderung tidak tahu, dan orang yang tidak tahu cenderung malas. Dan saya pikir, salah satu watak pribumi adalah apatis dalam hal baru dan hal yang dipikirnya tidak berkaitan dengannya -orang apatis-. Itulah mungkin mengapa orang Indonesia itu menjadi begitu malasnya jika dibandingkan penduduk di negara maju. Sedangkan bodoh adalah ketidakmauan berpikir, bukan ketidakmampuan berpikir. Sehingga secara substansial, tidak ada orang bodoh kecuali karena tidak mau berpikir. Karena ketidakmauan untuk berpikir itulah seseorang mudah dipengaruhi, ditipu, dan diintervensi. Lihatlah kasus mesuji baru-baru ini! Oknum yang seharusnya mengayomi masyarakatnya sendiri, tetapi justru membabi buta dan justru membela perusahaan milik orang asing. Cukuplah hal ini menjadi contoh kuat bahwa orang Indonesia mudah dipengaruhi dan dipermainkan karena ketidakmauan berpikir. Padahal pepatah mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang berpikir. Sehingga ketika orang itu tidak mau berpikir, maka dia adalah sama halnya dengan binatang. Dan miskin berarti produktivitas rendah. Inilah yang menjadi satu hal yang patut dibenahi. Orang cenderung merasa kaya ketika mampu mengorbankan banyak harta untuk konsumsi. Memang, jika dilihat dari segi konsumsi, ia kaya. Tetapi sungguh pada dasarnya ia adalah miskin. Tetapi paradigma yang demikian adalah memang sengaja dibuat oleh orang yang berproduksi agar orang kita terus mengkonsumsi, bukan produksi.

Sedangkan penyebab permasalah secara garis besar yang kedua adalah permasalahan sistemik. Secara sistem, negara ini sangat potensial untuk timbul suatu masalah. Saya katakan sistem disini adalah rancang bangun yang bersifat mengatur. Tetapi pada praktiknya, sistem yang sudah dibuat justru dipermainkan. Bukan lagi sistem yang mengatur sesorang, tetapi sesorang yang mengatur sistem. Itulah mengapa biar bagaimanapun hebatnya sesorang, ketika ia dalam sistem yang buruk, maka kehebatannya itu akan tertutup. Bak mesin kendaraan yang super canggih, ketika ia tidak dalam rangkaiannya, maka ia tidak fungsional dan hanya menjadi besi rongsokan tak berguna. Begitu juga di Indonesia, seorang sosiolog ataupun ahli ekonomi hebat sekalipun tidak mampu menangani permasalahan sosial yang ada sementara sistemnya tidak berubah.

Seperti yang saya katakan, solusinya adalah dengan menghilangkan penyebab permasalahannya. Sebelum menengok ke masalah umum dan sistemik, kita hendaknya menengok diri sendiri. Apakah kita mempunyai hal ihwal penyebab permasalahan sosial -lingkaran setan-. Karena kita tahu, diri adalah unit terkecil dari sebuah bangsa. Itu artinya, ketika kita ingin merubah bangsa, maka terlebih dahulu kita rubah diri sendiri. Yaitu dengan menghilangkan sifat apatis yang berujung pada kemalasan; ketidakmauan berpikir; dan tidak mau berproduksi. Dan ketika semua orang sudah berubah, maka bangsa yang madani pun terbentuk dengan sendirinya. Tetapi tidak cukup hanya dengan kualitas individu yang hebat, tetapi juga sistem yang mengatur tiap individu tersebut. Haruslah sistem itu bersifat holistik, non-diskriminatif, dan mengikat. Dan terlebih lagi, sistem yang baik itu akan melindungi orang yang baik, bukan orang baik yang melindungi sistem agar tetap berjalan. Di Indonesia, sistem seolah-olah memberi lubang kecil kepada orang yang gila kekuasaan untuk menindas orang lain. Sistem seolah-olah justru menjadi tameng ketika terlibat kasus. Seolah-olah orang yang baik tidak akan lepas dari sistem sehingga pada akhirnya, ia pun terkena skandal yang sama. Itulah yang seharusnya dirubah. Sudah saatnya kita membuat suatu perbaikan.

Advertisements

About adecandrahs

sangat suka one piece dan musik rock, khususnya angkatan 70an. termasuk salah satu yang percaya bahwa kebaikan itu momentum, sedangkan kebenaran itu tetap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s