Posted on

Bukan Sekedar BEM

Kebanyakan orang memandang masa menjadi mahasiswa adalah masa muda yang menyenangkan, penuh dengan cerita cinta dan dinamika hidup. Masa yang tepat untuk bermain, berpesta, dan bergaul. Menjadi seorang mahasiswa bisa berarti dua hal, yaitu: berkecukupan secara materi, atau cerdas dalam akademik. Karena, biaya kuliah sangat tinggi sehingga hanya bisa dijangkau oleh orang yang berkecukupan atau memang cerdas betul. Oleh karena itu, wajarlah jika saya dulu juga memandang bahwa mahasiswa identik dengan hidup mewah dan foya-foya. Karena hanya golongan tertentulah yang mampu menjadi mahasiswa. Meskipun, selalu ada mahasiswa yang tidak pernah menyiakan waktu untuk tidak belajar. Sehingga aktivitas dan pemikirannya adalah semata-mata untuk urusan akademis.

Tetapi, begitu saya memilih untuk menjadi bagian dari mereka, saya tersadar satu hal. Yaitu bahwa tidak semua pemikiran itu benar. Tidak semua mahasiswa itu hanya bersenang-senang. Tidak semua mahasiswa itu hanya memenuhi asupan akademisnya. Ditengah banyaknya mahasiswa yang memikirkan nasib akademis diri sendiri, ada segolongan orang yang berpikir tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga orang lain. Ketika mahasiswa sibuk di akhir pekan untuk bermain di keramaian kota, golongan itu berdiskusi soal pemerintahan, membahas permasalahan halayak, dan kemasyarakatan. Ketika mahasiswa ‘memusingkan diri’ dalam tugas akademik, golongan itu resah dengan masalah hak rakyat ditambah masalah akademik. Ketika mahasiswa terlelap tidur di malam hari selesai mengerjakan tugas, golongan itu memulai untuk merenungkan nasib orang yang kurang beruntung. Ketika mahasiswa sibuk membuat rencana liburan, golongan itu menentukan strategi berjuang. Ya, golongan itu adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Memang, jika ditilik secara harfiah, makna BEM tidak menggambarkan apa yang saya utarakan di atas. Secara arti kata, BEM berarti organisasi intrakampus yang merupakan lembaga eksekutif dalam universitas atau institut di tingkat mahasiswa. Sedangkan ‘eksekutif’, menurut kamus besar bahasa indonesia sendiri mempunyai arti pengelolaan atau penyelenggara sesuatu; kekuasaan untuk menjalankan undang-undang. Sehingga tugas BEM adalah menaati dan menjalankan peraturan yang dibuat oleh leigslatif yang dalam hal ini adalah Senat Mahasiswa atau Dewan Perwakilan Mahasiswa. Tetapi pada praktiknya, BEM ini tidak hanya sekedar menjadi pelaku politik mahasiswa di kampus, melainkan juga menginisiasi pergerakan mahasiswa dalam ranah perjuangan hak rakyat. Mereka berpikir bahwa esensi keberadaan mahasiswa adalah untuk menunaikan amanah dalam membangun kehidupan masyarakat yang berkeadilan. Mahasiswa adalah agen perubahan yang memegang peranan penting dalam terselenggaranya kebijakan pemerintah. Mahasiswa adalah pengawas jalannya politik pemerintahan.

Ketika saya masih di bangku SMA, saya berpikiran bahwa BEM adalah organisasi mahasiswa semacam OSIS, yang tiap tahunnya melakukan kegiatan berdasarkan program kerja yang dibuat pada awal kepengurusan. Dengan kata lain, BEM adalah event organizer yang hanya membuat acara, menjalankannya, dan melaporkannya. Tetapi sekali lagi, pemikiran itu kini berubah. BEM tidak hanya sekedar event organizer yang hanya terpaku pada program kerja yang dibuatnya, tetapi juga hal-hal lain yang tidak ada dalam sistem pemerintahan mahasiswa. Pada praktiknya, mereka bekerja bukan hanya pada ranah intra kampus, tetapi ke segala aspek baik di dalam kampus tetapi juga luar kampus. Mereka mewakili mahasiswa seluruh kampus untuk membela masyarakat dari persepektif intelektual.

Menjadi bagian dari BEM adalah sebuah rasa keberanian untuk berpikir dan bersikap lebih dari zona nyaman mahasiswa, dimana mahasiswa hanya bertugas untuk belajar. Mengemban amanah sebagai agen perubahan, tentunya bukan hal yang ringan tetapi dengan memberanikan diri terlibat dalam BEM adalah langkah positif sebagai agen perubahan. Karena harus kita akui, bahwa lebih banyak mahasiswa yang apatis dengan permasalahan bangsa. Mereka berpikiran, tugas mahasiswa adalah belajar. Permasalahan politik adalah bukan urusan mahasiswa. Sehingga, dengan menjadi bagian dari BEM merupakan langkah yang berbeda dan berani.

Sedangkan Badan Eksekutif Mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, bagi saya adalah organisasi paling tepat untuk berkontribusi dalam hal perjuangan membela hak rakyat. Universitas Gadjah Mada adalah universitas dengan kualitas tinggi dan banyak terdapat intelektual. Orang-orang yang ada di dalamnya adalah orang cerdas dan tekun. Universitas Gadjah Mada adalah universitas kerakyatan yang selalu membela rakyat, selalu kembali ke rakyat. Sehingga menjadi bagian dari BEM di UGM adalah sama halnya dengan mewakili orang-orang cerdas untuk peduli terhadap nasib rakyat. Selain tugas besar itu, BEM di UGM juga peduli dalam kemahasiswaan dan intra kampus. Menjadi bagian dari BEM di UGM berarti merelakan sebagian waktu santai untuk berpikir lebih.

Hidup Mahasiswa!!

Advertisements

About adecandrahs

sangat suka one piece dan musik rock, khususnya angkatan 70an. termasuk salah satu yang percaya bahwa kebaikan itu momentum, sedangkan kebenaran itu tetap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s