Tentang Burung Kecil

28 Mei 1993 pukul 21.00 adalah sebuah momentum besar bagi sepasang suami-istri yang tinggal di perkampungan di Magelang. Untuk pertama kali, mereka mempunyai seorang putra yang kelak akan mewarisi cita-cita mereka. Buah cinta yang ditunggu-tunggu lahir dengan tanpa kecacatan terlihat. Maka, segera sang ayah meng-adzan-i di kedua telinga sang putra, berharap bahwa kelak bisa menjadi pribadi yang taat pada Tuhannya. Sementara sang Ibu tersenyum lega dibalik luar biasa capainya. Tak lama, sang putra pun diberi nama.  Ade Candra Hendra Samodra lah yang menjadi sebutannya dan kelak akan selalu dibawanya hingga ia tiada. Terselip do’a dan harapan dibalik sebutan itu. Anak desa yang punya wawasan luas, berlaksana luhur, bersemangat, dan kokoh pendiriannya. Itulah makna dibalik nama. Kini, 19 tahun berlalu. Burung kecil sudah terbang menjangkau luasnya langit, mencari tujuan dan hakika kehidupan yang hakiki. Terbang dari satu wilayah ke wilayah lain, meninggalkan desa dimana ia dibesarkan. Tapi kelak burung kecil itu akan kembali dengan pandangan luas hasil penerbangannya, untuk membangun desa. Membangun lebih dari apa yang bisa ia bangun ketika ia tidak terbang dari desa. Dan burung itu….. adalah Aku, Ade Candra.

kopi|classical music|ronaldinho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s